Saturday, August 30, 2025

Let me ~

at 8/30/2025


Sebagian orang menganggap mimpi sebagai bunga tidur. Sebagian lain mengangap perjumpaan setelah sekian lama yang mungkin sudah tak bisa lagi terealisasi di dunia nyata, ntah meninggal atau meninggalkan. Bagiku, mimpi sebagai simbol kekacauan alam bawah sadar yang tidak biasa. Atau bisa jadi, petuah atas keraguan dan kebimbangan yang terlintas.

Semalam aku memimpikan seseorang yang sudah lama tidak berkontak. Walaupun jika diperiksa alasan mengapa aku bermimpi demikian bisa ku runtutkan. Pertama, dia bukan teman biasa. Kedua, terakhir kali kami bertemu bukanlah perpisahan yang manusiawi, menurutku. Ketiga, setelah pertemuan terakhir itu ia kembali ke tempatnya, pagi tadi ia posting foto di tempat yang sering kami lalui di trip antar kota antar provinsi. Keempat, ada pesan yang ingin ku sampaikan dgn hati dan perasaan yang damai yang mungkin tak pernah tersampaikan sebelumnya.

Sesaat aku bertanya, bisakah ia berkeliling kota itu tanpaku? Bukankah 80% waktu yang ia habiskan di sana bersamaku. Ya, walaupun 20% sisanya sumbangsih awal ia menginjakkan kaki di sana dan sebelum ia akhirnya kembali ke tempat asal. Tentu saja 20% itu karna aku belum kenal dia dan karna aku juga sudah pindah dari kota itu.

Tapi, ia bukan aku. Setiap sudut kota itu, juga kota yang saat ini ku tinggali selalu ada jejaknya. Di kota itu, ia menemaniku dari aku bukan siapa hingga menjadi siapa-siapa. Di kota yang baru, ia masih setia menemaniku di setiap senang dan sulitku beradaptasi dgn kota ini. Asrama, kontrakan, kos 1 2 3, sepanjang jalan, rute view yang bagus, track yang bikin mabuk, pagi siang malam. ah ~

Setiap aku pulang, aku berharap bertemu dengannya. Bukan, ini bukan sekedar perasaan rindu. Aku ingin berbicara. Aku ingin berpisah dengan damai tanpa luka dan alam bawah sadar yang masih merasa berhutang dan terhutang.

Aku ingat, seminggu sebelum menikah ku sampaikan undangan kepadanya. Ku rasa, itu komunikasi kami terakhir. Setelah itu, tak pernah muncul balasan darinya walaupun beberapa tahun kemudian kami masih mutual di media sosial. Namun aku sadar, beberapa waktu terakhir aku berhenti mengikuti media sosialnya dan ntah berapa lama kemudian, ia pun melakukan hal yang sama.

Setelah ku ingat kembali, siklus seperti ini pernah terjadi. 2021 menghitung mundur ke 2016. Aku, dengan temanku yang lain kembali bertemu untuk berpisah dengan damai. Mengapa ini terjadi lagi empat tahun kemudian? Mengapa aku harus merasakan perasaan yang sama dengan menghitung mundur 2025 ke 2020?

Bahkan setelah ku membongkar memori, story yang masih tersimpan di archieve instagram terakhir di tgl 18 Januari 2020, di warung kopi favoritku karna kopi saringnya.

Aku tau ini absurd. Aku tau akulah penjahatnya. Aku tau rasanya tak pantas meminta untuk bertemu setelah luka dan duka yang mungkin tak pernah terobati yang sudah ku buat padamu. Aku baru saja mengomentari film yang jalan ceritanya mengarah kepada seorang perempuan yang mengajak mantan pacar untuk bekerja sama dalam sebuah project. Aku yang menonton, tapi aku marah. Ku pikir tokoh perempuannya terlalu egois. Lalu? Mengapa aku tak berkaca?


Tolong, izinkan aku berjumpa denganmu sekali lagi.



Sunday, April 04, 2021

Mengapa Seni Mencintai terlalu rumit?

at 4/04/2021

 Seringkali keputusan diambil hanya berdasar pikiran pendek dan emosi sesaat. Namun, apa yang terjadi jika keputusanmu dengan pertimbangan dan perencanaan yang cukup matang yang sudah dibuat, tertolak dengan alasan tertentu? Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara agar supaya kamu bisa menerima dan mengikhlaskan keputusan yang berseberangan dengan keinginan atau perencanaanmu?


Thursday, July 02, 2020

Aku Cinta Kamu Ada Apanya (!)

at 7/02/2020
Catatan ini tertulis atas respon dari sebuah tulisan di laman sebelah yang berjudul Menerima Apa Adanya Itu Tak Pernah Apa Adanya .

Setiap penerimaanku selalu ada konsekuensi dibaliknya, entah menjalankan tanggung jawab, atau mengikuti aturan moral masyarakat. Tanggungan itu tak bisa diabaikan begitu saja, mengabaikan pun itu tanggung jawab, bukan hanya konsekwensi atas tindakan, penerimaanku tak pernah begitu saja

Pada akhirnya kau memilih untuk melepaskan tanggungjawabmu. Atau kesimpulan yang bisa diambil adalah kau bahkan tidak menerima ku. Karena, ya! Kau memilih ku ada apanya. Ku ulangi sekali lagi, kau tidak menerima ku karena menurutmu, penerimaanmu tak pernah begitu saja.

Aku tidak bersumpah atas kehilangan aku padamu. Aku juga tidak bersumpah semua kesakitan ini akan menimpamu. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menyumpahi orng-orang yang dengan sengaja atau tidak menyakitiku. Doaku menyertai kalian semua. Begitulah seharusnya. Akupun tidak memusingkan harus memikirkan kau yang menggoreskan luka teramat dalam.
Sakit, perih, berdarah dalam tangisan. Sudah cukup ku rasakan. Durasi untuk berada dalam kesakitan memang tidak terlalu lama. Kelihatannya. Nyatanya, untuk mendoakanmu dalam kebaikan pun aku masih angkuh. Aku masih sombong ntah sampai kapan. Ku pikir, tidak menghujat dan menyumpahimu saja sudah cukup alih-alih mendoakanmu dalam kebaikan. Sebentar. Semoga suatu saat kekuatanku akan sampai kesana. Mendoakanmu dalam kebaikan.

Ntah apa yang kau pikirkan tentangku. Selalu kau sebut aku yang menjebakmu; aku yang menyeretmu masuk ke dalam pusaranku; aku yang menjerumuskanmu. Apapun itu, aku terima. Bahkan aku masih menerima kesakitan itu sembari menahanmu untuk tetap bersamaku.

Januari, ekspektasiku yang terlalu tinggi terhadapmu. Lalu kau meninggalkanku atas realita yang begitu jatuh ke jurang setelah kau memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi terhadapku. Ku pikir, aku sudah cukup merendahkan ekspektasiku agar jika realita tidak sesuai dengannya, tidak terlalu sakit penerimaannya.

Juni, kau membuatnya runtuh. Luluhlantak. Habis tak bersisa. Katamu, aku yang menghancurkan semuanya. Katamu, rasa itu kosong dan hampa, hilang begitu saja. Jika saja kau bisa menilik dan membaca hatimu, ku pikir itu hanya pikiranmu yang terlalu negatif. Masih ada aku di dalamnya, begitulah keyakinanku. Tapi ternyata selama ini aku mimpi buruk dalam realita. Atau aku mimpi indah dalam realita.

Mimpi indah dalam realita. Januari Februari, aku masih dalam kesadaran. Maret, aku terbuai mimpi indah. April Mei, aku mulai memasuki mimpi buruk. Juni, mulai memasuki realita kembali. Realita yang teramat pahit. Juli, sadarlah; bertahanlah; tumbuhlah; berkembanglah.

Tulisan ini ku rangkai untuk menyampaikan pesanku padamu yang tak ingin ku kirim secara langsung atau ku ucap di depanmu. Pesanku tak banyak dan tak panjang. Ubah saja motto hidupmu menjadi Aku Mencintaimu Ada Apanya (!)
Meski tak pernah kau bilang cinta duluan. Meski jawaban love you too doesnt make you stay. Meski bla bla bla sudah kita lakukan. Semua itu semu. Kau tetap pergi. Oke baik jika kau tidak pergi dan rumahmu masih disana, tapi kau memilih mundur. Iya, mundur katamu. Mundur menjadi kata yang officially menyudahi kita.
Ingatlah rasa ini seumur hidupmu. Bahkan aku terlalu percaya diri untuk mengatakan banyak yang lebih baik dariku disana hingga kau temukan yang lebih baik. Aku percaya diriku hanya sampah kotor yang kau pun tak sudi untuk menerimanya. Ingatlah aku memperjuangkanmu kala itu. Ingatlah aku mengemis padamu. Ingatlah, harga diriku yang sudah habis yang kau tepis dgn aku dan keluarga ku sudah kau injak2 harga dirinya.

Baik-baik ya. Bertingkahlah seperti itu kepada perempuan lain :)

Saturday, January 25, 2020

hujan dan kapital

at 1/25/2020
Semarang, 25 Januari 2020
16.29


Sebelum aku menuliskan ini, perasaan kekecewaan terhadap diri sendiri kian memuncak. Mungkin kurang tepat jika ku sebut dengan kekecewaan. Boleh saja dianggap sebagai bentuk ketidakpercayaan diri. Setiap kali mendekati (atau didekati?) dengan orang lain, aku selalu menakar tingkat ekspektasi. Sebisa mungkin untuk tidak berekspektasi terlalu tinggi juga terlalu rendah. Kali ini, kepercayaan diri itu muncul seiring dengan ekspektasi ku yang sebenarnya biasa saja.

Baru saja aku menyadari, aku bukanlah apa-apa dibanding dia yang luar biasa.

16.10
Baru saja aku bercerita dengan diriku sendiri, berharap cerita itu sampai kepada Tuhan. Dalam sujudku, tak terasa air mata jatuh mengingat diriku yang sangat kecil, mengharapkan karunia Dia yang begitu besar. dia, yang sekarang mendekat, ku panjatkan dalam doaku kepada-Nya. tapi, semakin sering interaksi ku dgn dia, semakin aku menyadari bahwa aku tidak ada apa-apanya.


16.16
Mungkin resah yang menghampiri ku sejak tadi malam mengirimkan sinyalku kepada bunda. Pada akhirnya, saling memberi pesan pun terlaksana. dan tak pernah ku sangka, ini pertama kalinya, dia, bercerita dengan bunda. Ya. aku pun terheran-heran, apa yang terlewati, terjadi begitu saja. Inginku mengklaim apakah ini pertanda? 
Tapi aku tak ingin terburu-buru menafsirkan seperti itu. ada baiknya ku simpan dalam peti, lalu ku gantungkan ke bintang.


17.05
Hormon menjelang period, konflik kecil yang ku alami dgn sahabat, belum terselesaikannya urusan ku dgn individu lain, serta harapan yang kadang naik turun dgn dia, membuat suasana hati dua hari ini cukup berantakan. 

Sunday, April 29, 2018

Sisi lain

at 4/29/2018
Anggaplah Tuhan sedang mengujimu.

Kutukan

at 4/29/2018
Lemah.
Gelap.

Ku kira hanya mimpi
Tp ternyata nyata

Yg ku takutkan hanya kutukan
Bukan penolakan

Kosong.
Tak ada harapan.

Thursday, May 12, 2016

Abstract: The Review of Perennial Philosophy in The Divineness conception in the PK movie

at 5/12/2016

ABSTRACT

This title of the research is “The Review of Perennial Philosophy in The Divineness conception in the PK movie”. PK movie created by Rajkumar Hirani. This is based on the issues of religious reality that often lead to conflicts between religious communities. Religion should be a path to an Absolute Reality that creates a harmonious atmosphere between one religion and another. The aims of this research are to disclose The Divineness conception in the PK movie and analyzing the review of Perennial Philosophy in The Divineness conception in the PK movie.

Wednesday, April 27, 2016

Empat Taraf dalam Human - Anton Bakker

at 4/27/2016
Pernah suatu ketika mendapat materi kuliah di Filsafat Sejarah yang cukup menarik. Entah karena memang isi materi yang menarik atau kemampuan Bapak Dosen menyampaikan materi sedemikian rupa hingga masih terngiang sampai sekarang.

4 Taraf dalam Human
yang paling bawah adalah ekonomi
setingkat di atasnya adalah sosial - politik
lalu ada tingkatan humanistik
dan yang paling tinggi ialah religius



Sebentar, sebelum menceritakan lebih lanjut (di sini saya tidak bermaksud menggurui), taraf dalam human bukan menuju ke jurusan pendidikan. tidak banyak hubungan antara jurusan pendidikan dgn taraf dalan human.

Ketertarikan saya bermula ketika ekonomi menjadi tingkatan terendah dalam taraf manusia. Manusia dikatakan sebagai homo economicus. Pada tingkatan ini, manusia terlihat sebagai makhluk individu. Penekanan terhadap untung rugi dan hal-hal yang berkaitan dengan material menjadikan manusia berada dalam taraf paling bawah.
Taraf selanjutnya ialah sosial-poliitik. Setelah manusia mengejar hal-hal yang berbau materi, ia beralih untuk mengejar kekuasaan. Sudah menjadi kodrat manusia untuk berkuasa. Jelas ada keterkaitan antara zoon politicon dengan homo homini lupus. Di satu sisi manusia hidup membentuk kelompok-kelompok. Namun, di sisi lain, manusia menjadi serigala bagi sesamanya. Setiap orang mempunyai hak untuk mendapatkan  segala  sesuatu,   karenanya   yang   menentukan adalah kekuatan. Yang kuat akan mempunyai hak lebih besar daripada yang lemah. Untuk itu lah diperlukan kekuasan.
Taraf selanjutnya yaitu humanis. Pendidikan, moral, adat, kesenian, kekeluargaan, dll masuk ke dalam kategori humanis. Hal-hal yang dilakukan manusia tidak lagi mengejar materi dan kekuasaan, tetapi ia menjunjung tinggi rasa kemanusiaan terhadap sesama. Pada tingkatan ini, manusia dikatakan sebagai homo socius.
Taraf tertinggi dalam manusia adalah religius. Pada taraf ini, manusia menitikberatkan pada kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk Tuhan. Tidak sekedar mencari keuntungan dan mengumpulkan materi di taraf ekonomi, tidak menomorsatukan kekuasaan, melakukan hal-hal sosial bagi orang banyak, hingga sampai di taraf religius bagi dirinya sendiri.

Kalau saya boleh berpendapat tentang 4 Taraf dalam Human-nya Anton Bakker di atas, saya ingin menggunakan analogi.

Pada taraf terendah (ekonomi), manusia ditekankan sebagai makhluk individu. Ini diasumsikan sebagai Manusia untuk ‘satu’. Bertahan hidup untuk dirinya sendiri.

Pada taraf kedua (sosial-politik), ketika ‘satu’ sadar bahwa dalam pencapaian ekonomi pun tidak bisa berjalan sendiri, ‘satu’ memerlukan bantuan manusia lain. Namun, jangan sampai manusia lain malah merugikan si ‘satu’. Untuk itu, diperlukan kekuasaan untuk menggerakkan manusia lain, agar ‘satu’ mendapatkan segala sesuatu yang diinginkan. ‘Satu’ harus berkuasa terhadap ‘dua’, ‘tiga’, ‘empat’, dan lainnya.

Pada taraf ketiga (humanis), tingkatan dimana ‘satu’ tidak ingin berjalan sendiri. Tidak ingin sejahtera sendiri hanya sebagai ‘satu’ seorang diri. Mungkin ‘satu’ sudah memiliki materi (harta) atau bisa jadi ia tidak memikirkannya. Mungkin ‘satu’ sudah memiliki kekuasaan atau bisa jadi ia tidak ingin berkuasa. Yang jelas, ‘satu’ ingin memperjuangkan hak-hak manusia atas nama humanistik dan sosial.

Taraf tertinggi (religius), manusai memahami bahwa ‘satu’, ‘dua’, ‘tiga’, dan lainnya ialah makhluk ciptaan Tuhan. Semua yang tercipta di dunia ini ada yang menggerakkan dan itu bukan oleh tangan manusia. Sehingga, ‘satu’ hanya terfokus pada ‘Sang Pencipta’. Terlepas dari ia memiliki atau tidak mengenai materi, kekuasaan, dan sikap humanis, ‘satu’ menyadari bahwa bagaimanapun ia hidup di dunia, ia harus tetap dekat dengan ‘Sang Pencipta’.

Ironisnya, menurut pendapat pribadi saya, sebagian orang menggunakan tameng taraf tertinggi  sebagai alat untuk ‘mencari’ keuntungan ekonomi dan sebagai ‘media’ untuk memiliki kekuasaan dalam sosial-politik.

Kenyataan yang dihadapi sekarang ialah, manusia berlomba-lomba untuk mengumpulkan materi demi label sejahtera. Tidak cukup berhenti disitu, ia berlomba untuk mencuri perhatian publik agar dipilih menjadi pemimpin (red: penguasa). Namun, ada sebagian orang yang tidak memilih sebagai penguasa setelah ia mengumpulkan materi. Ia lebih cenderung untuk membantu kegiatan-kegiatan humanis.

Ada taraf tertinggi dalam manusia setelah humanis, yakni religius. Orang di sekitar lingkungan kita yang benar-benar telah mencapai titik ini tidak lagi memprioritaskan materi dan kekuasaan, melainkan menjalani kehidupan dengan penuh keyakinan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan. Berbagai macam ritual agama merupakan salah satu usaha yang dilakukan manusia untuk mendekatkan diri pada Tuhan.
Namun, sekarang ini banyak sekali perpecahan antar umat manusia yang mengatasnamakan agama. Jika agama menjadi sumber perpecahan bagi sebagian orang, apakah ia benar-benar sudah berada dalam taraf religius?

Tidak! tegas disini saya berpendapat bahwa agama apapun tidak mengajarkan manusia untuk berbuat kerusakan. Orang yang mengatasnamakan agama bahkan Tuhan, lalu memecah belah umat manusia perlu untuk ditelusuri lebih lanjut apa motivasi ia melakukan hal tersebut. Bisa jadi, ia hanya mengejar materi hingga kekuasaan, tetapi mengatasnamakan agama.

Friday, April 15, 2016

5 Kepulauan Mendunia yang Ada di Indonesia

at 4/15/2016

Indonesia terkenal sebagai Negara kepulauan. Terbentang dari Sabang sampai Merauke, terdiri dari 5 dan pulau besar itulah yang merupakan ciri khas Indonesia. Namun, apakah kamu sudah pernah melihat kepulauan itu secara nyata? Apakah kamu sebagai warga Negara Indonesia sudah merasakan identitas sebagai Negara kepulauan ? Mari kita simak lima kepulauan yang menakjubkan di Indonesia. *Foto-foto searching di go*gle aja yaaaa *


  • Kepulauan Anambas

Banyak orang yang bilang kalau jadi orang Indonesia itu sangat menyenangkan. Yups, sangat membanggakan jadi warga Indonesia. Mengapa tidak ? kamu ga perlu jauh-jauh ke Maldives untuk mendapatkan pemandangan yang menakjubkan dari pulau-pulau yang indah. Indonesia memiliki kepulauan yang tak kalah dengan Maldives. Kepulauan Anambas biasa dikenal dengan nama Maldives nya Indonesia .


Kepulauan Anambas termasuk dalam salah satu kabupaten di Kepulauan Riau. Dulunya, Kepulauan Anambas masih satu kabupaten dengan Kepulauan Natuna. Namun, pada tahun 2008 Kepulauan Anambas menjadi kabupaten sendiri, yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Natuna. Kabupaten Anambas memiliki ibukota bernama Tarempa. Jika ingin berkunjung ke Anambas, kamu harus menunggu jadwal kapal feri dari Tanjung Pinang menuju Tarempa yang hanya berlayar selama tiga kali seminggu. Senin, Rabu, dan Jumat adalah jadwal dari Tanjung Pinang-Tarempa. Sedangkan Selasa-Kamis Sabtu adalah jadwal dari Tarempa-Tanjung Pinang. Waktu yang dibutuhkan selama penyebrangan dari Tanjung Pinang ke Tarempa ataupun sebaliknya ialah kurang lebih sepuluh jam.
Kepulauan Anambas dalam sejarahnya bermula dinamakan Pulau Tujuh. Hal ini disebabkan Kepulauan Anambas terdiri dari tujuh pulau yang dianggap sakral oleh sebagian masyarakat kepulauan Riau. Tujuh pulau tersebut yaitu, Tarempa, Marak, Mubur, Impul, Jemaja, Raibu, dan Telaga. Jika kamu ingin mengunjungi Anambas dan merasakan Maldives nya Indonesia, perhatikan jadwal kapal ferinya ya!

Thursday, December 17, 2015

surat untuk ibu mertua

at 12/17/2015
teruntuk perempuan cantik yang selalu menyebut nama putranya di setiap doa

Ibu, perkenalkan aku adalah gadis lugu yang mulai beranjak dewasa. aku seorang perempuan muda yang belum banyak menyelami pahit manis kehidupan. aku seorang wanita yang dididik dan dibesarkan oleh sepasang malaikat.

Ibu, aku dibesarkan oleh perempuan hebat. Ya, sama seperti ibu membesarkan putra-putra ibu. Darinya, aku akan belajar menjadi perempuan yang lembut. Darinya, aku diajari untuk menghormati imam ku kelak. Darinya, aku diajari untuk menghormati mu, seperti aku menghormati malaikatku.

Ibu, aku diajari menjadi perempuan tangguh oleh ksatria hebat. Tak mudah mengeluh, menjadi sosok yang mandiri, dan pantang menyerah merupakan senjata terampuh untuk menjadi seseorang yang tangguh. Ksatria ku yang takkan tergantikan, ku temukan secuil sosok bijaknya dalam diri putra mu.

Ibu, aku tidak tau bagaimana kami dipertemukan. Aku tidak tau mengapa putra yg paling kau banggakan memilih ku. Aku pun tidak tau, kapan kami memutuskan untuk bersama. Yang mungkin aku tau, mereka sering menyebutnya jodoh.

Friday, June 12, 2015

cerita di Anambas

at 6/12/2015
Hai, udah hampir setahun dari masa-masa sibuk KKN. Bagaimana kabar kalian? Setahun yang lalu masih bareng, masih berstatus anak kuliah, masih sibuk deadline skripsi, juga masih sibuk ngecek nilai. Sekarang, udah ada yang lulus, udah ada yang sibuk daftar S2, ada yang baru didadar, ada yang masih sibuk ngerjain skripsi, ada juga yang masih sibuk kuliah –S1 tentunya- .

Wednesday, May 27, 2015

Tuhan tidak terikat ruang dan waktu

at 5/27/2015
Tuhan menciptakan (atau menurunkan?) kitab suci bersifat universal, original, the one and only, pedoman bagi umat-Nya. Tetapi, Tuhan juga menciptakan akal pada setiap manusia. Bebas memikirkan apapun, yang pasti bersifat subjektif.

Iman, keyakinan, kepercayan, toleransi, dsb tergantung dari masing2 individu meskipun udah jelas pedoman dari kitab suci. Pengolahan terakhir ya tergantung akal manusia perorang.
jangan menyalahkan, mempertanyakan, mengeluhkan tentang Tuhan. Karena Tuhan tidak terikat ruang dan waktu. Salahkan, pertanyakan, atau keluhkan lah pemahaman manusia tentang Tuhan ~

Thursday, February 12, 2015

anak soleha

at 2/12/2015
"Alhamdulillah, rejeki anak soleha!"
Tak jarang ku dengar kalimat itu terlontar dari mulutnya. Ya, iya selalu menganggap dirinya (atau malah mendoakan) sebagai seorang anak yang soleha alias taat kepada orang tua dan agama. Putri, sebut saja begitu nama aslinya. Entah kenapa akhir-akhir ini ia melabelkan dirinya anak soleha.

Ketika ia sedang berlibur pulang ke kampung halaman, tak jarang ia membantu pekerjaan ibunya di rumah. Memasak, membersihkan rumah, mengerjakan beberapa laporan pekerjaan ibunya, hanya sekedar mengisi waktu luang. Maklum, ia masih seorang remaja yang menjadi perantau karena harus kuliah di luar daerah asalnya sehingga jarang sekali ia bertemu ibunya. Semua yang dilakukannya di rumah hanya sekedar mengisi kekosongan yang akan lebih penat ketika ia tidak mnegerjakan apapun.

Suatu ketika, saat anak soleha ingin menonton tv ia pun mengeluh. Untuk apa sekedar menonton tv, membuang waktu padahal masih bisa mengerjakan pekerjaan lain. Seketika ia langsung mengambil setrikaan dan baju-baju yang belum di setrika sehabis di cuci. Tulus. Ia hanya ingin menghabiskan waktunya dengan hal-hal produktif. Menonton tv sebagai hiburan dan menyetrika sebagai selingan. Meskipun memakan waktu yang begitu lama dibanding fokus menyetrika, ia tetap senang karena setidaknya kemauannya untuk menonton tv tetap terlaksana sembari menonton.

Ketika ibunya pulang dari bekerja, beliau trkejut melihat pakaiannya yang sudah rapi. Ia menanyakan hal tersebut ke anaknya. "Siapa yang menyetrika baju mama, dek?", tanya ibunya. "Adek, ma. Tadi mau nonton tv doang, tapi sekalian lah nyetrika baju", jawabnya santai. "Wah, anak soleha" jawab ibunya sambil pergi. Dan si Putri pun bingung, apa yang spesial ketika ia ingin menonton tv dan menyetrikka sebagai selingan? tapi ia senang karena ia mendapat gelar anak soleha, karena ia ingin menamai dirinya, yang hingga saat ini ia tidak memiliki label yang tepat yang menggambarkan dirinya.


Tuesday, December 16, 2014

untitled

at 12/16/2014
aku berusaha untuk menjadi yang terbaik
aku berusaha untuk bertanggung jawab atas segala kewajiban yang diberikan
aku berusaha untuk selalu peduli sama hal-hal yang sebenarnya tak ku kuasai
aku berusaha untuk melanjutkan istana yang telah dibangun dengan susah payah

tetapi manusia tetaplah manusia
yang selalu disorot pastilah sesuatu yang jelek
bak pepatah menyebutkan panas setahun hilang dengan hujan sehari
mereka lupa aku siapa dan dia siapa, aku yang bisa apa dan dia yang seprofesional apa

usaha tak selamanya harus terlihat jika keikhlasan yang kau junjung
dan sekarang keikhlasan bukanlah mata uang yang berlaku disetiap penjuru bumi
apalagi yang kalian butuhkan?
jujur, tulus, kelembutan, perhatian?
tetap saja jika patokannya seorang yang profesional dan dibandingkan dengan aku yang tidak ada apa-apanya akan kalah

terimakasih atas setahun kebersamaan selama ini,
aku bahagia melepas penat yang mengkungkung ku selama ini

satu pesanku, berikanlah pekerjaan sesuai kemampuan seseorang, maka ia akan sukses!

perbandingan pun tak menggunakan alur logika

at 12/16/2014
akan terlihat fair kah ketika anak TK dibandingkan dengan siswa kelas 3 SD ?
aku tidak menyalahkan perbandingan,
tapi mental perbandingan bukanlah sesuatu yang mendidik!
dituntut untuk selalu setara dengan yang terbaik, hingga tak bergerak untuk berkreasi
aku yakin, anak TK itupun masih terus berusaha untuk belajar berhitung satu tambah satu meskipun selalu dicerca dan diejek bahwa ia tak bisa mengoperasikan pecahan
adakalanya anak TK akan lebih sering memilih bermain dibanding belajar matematika, dibandingkan dengan siswa kelas 3 SD yang addicted dengan berhitung

realitasnya, perbandingan pun tak menggunakan alur logika ..

Wednesday, August 27, 2014

keterbiasaan

at 8/27/2014
segala cerita tentang keterbiasaan
terbiasa panas terik,
terbiasa tidur beralaskan tikar,
terbiasa naik turun bukit,
terbiasa naik kapal kecil untuk pergi ke pasar,
terbiasa dgn listrik yg hanya jam 6-10 malam,
terbiasa tanpa tv
terbiasa makan sepiring berdua,
terbiasa dengan pulau yang terpisah diantara lautan luas
terbiasa dgn keluarga baru yg teramat sayang
terbiasa dgn adik kecil yg slalu meramaikan rumah
terbiasa dgn ikan bakar,ikan goreng, ikan sambal ijo, dan ikan ikan lainnya
terbiasa dgn candaan sebelum tidur
terbiasa dgn kebiasaan baru yang dimulai sejak menginjakkan kaki di Piasan, pulau mubur Kab. Kepulauan Anambas
 melayu, orang melayu, dan secuil surga yang ada disini mengajarkan kebiasaan baru yg tak akan didapatkan di hamparan darat sana.
ini daerah kepulauan,yang sangat mewah
kau melihat hamparan laut,tp bukan laut lepas seperti biasanya kau pergi ke pantai
kau melihat air bening dibawah kaki mu,tapi air asin jika kau merasakannya
kau melihat bukit2 di seberang sana, dan tak secepat itu kau dapat mengunjunginya
ini tanah melayu dgn segala keramahannya,ini bagian kecil dari yang kau sebut Indonesia

KKN-PPM 2014

Saturday, July 05, 2014

kuat atau goyah begitu saja

at 7/05/2014
Selama ini, yang ku pikirkan hanyalah cinta dalam keterikatan.
akankah aku mencoba lepas dari tali itu dan membiarkan cinta datang dan pergi, kuat atau goyah begitu saja?

kau kenal cinta?

at 7/05/2014
kau kenal cinta?
aku sudah cukup akrab dengannya
aku bahkan ahli dalam fenomenanya
dan aku tau, manusia hidup tidak hanya soal cinta

kau kenal cinta?
saat ini aku hampir pergi
dan memang memutuskan untuk pergi
pergi meninggalkan seprangkat kasih
yang ku bawa hanya untuk cintaku sendiri

kau kenal cinta?
aku yakin kau tidak mengenalnya
kau terlalu pragmatis, terlalu rasional
hingga kau tak bersentuhan dengan cinta

kau mengenalkan aku soal cinta yang lain
di saat orang-orang memberiku cinta yang baur
kau berusaha mengjariku melepaskan cinta

terimakasih telah berkunjung atas nama cinta
cinta tak seburuk yang kau kira
tapi cinta juga tak sebaik yang pernah ku rasa

Wednesday, April 23, 2014

Mentalitas Miskin Indonesia

at 4/23/2014


Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya akan sumber daya alamnya. Ditinjua dari letak geografis, Indonesia berada diantara dua benua, dua samudera, dan di garis khatulistiwa. Hasil kekayaan alam yang dapat dimanfaatkan tidak hanya di sektro pertanian, tetapi juga di sektor kelautan. Meskipun demikian, Indonesia menjadi salah satu negara berkembang di dunia. Negara berkembang adalah istilah yang umum digunakan untuk menjelaskan suatu negara dengan kesejahteraan material tingkat rendah. [1]. Hal ini menandakan, Indonesia belum mencapai predikat negara maju yang memiliki tingkat kesejahteraan dan standar hidup yang cukup tinggi.
Kesejahteraan dan standar hidup suatu negara ditentukan oleh pendapat perkapita dan penggunaan teknologi masyarakatnya. Namun dalam makalah ini, penulis tidak membahas bagaimana kesejahteraan atau standar hidup Indonesia, tetapi lebih mengarah ke analisis pencapaian kesejahteraan masyarakat saat ini. Sejahtera menurut W.J.S Poerwadarimta adalah ‘aman, sentosa, dan makmur’. Sehingga arti kesejahteraan itu meliputi kemanan, keselamatan dan kemakmuran[2]. Sederhananya, manusia berlomba-lomba mengumpulkan materi untuk memenuhi kebutuhan, demi mencapai predikat sejahtera. Negara bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya melalui perencanaan, penyusunan, dan pelaksanaan kebijakan-kebijakan dalam bidang perekonomian.

Sunday, April 13, 2014

jantung ayam

at 4/13/2014
Seringnya orang orang yang udah dikasi hati malah minta jantung. Dan ga pernah sadar.

Nih ak kasi jantung ayam biar ga minta2 lagi
 

r e g e n b o g e n Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review