Thursday, May 12, 2016

Abstract: The Review of Perennial Philosophy in The Divineness conception in the PK movie

at 5/12/2016 Links to this post

ABSTRACT

This title of the research is “The Review of Perennial Philosophy in The Divineness conception in the PK movie”. PK movie created by Rajkumar Hirani. This is based on the issues of religious reality that often lead to conflicts between religious communities. Religion should be a path to an Absolute Reality that creates a harmonious atmosphere between one religion and another. The aims of this research are to disclose The Divineness conception in the PK movie and analyzing the review of Perennial Philosophy in The Divineness conception in the PK movie.

Wednesday, April 27, 2016

Empat Taraf dalam Human - Anton Bakker

at 4/27/2016 Links to this post
Pernah suatu ketika mendapat materi kuliah di Filsafat Sejarah yang cukup menarik. Entah karena memang isi materi yang menarik atau kemampuan Bapak Dosen menyampaikan materi sedemikian rupa hingga masih terngiang sampai sekarang.

4 Taraf dalam Human
yang paling bawah adalah ekonomi
setingkat di atasnya adalah sosial - politik
lalu ada tingkatan humanistik
dan yang paling tinggi ialah religius



Sebentar, sebelum menceritakan lebih lanjut (di sini saya tidak bermaksud menggurui), taraf dalam human bukan menuju ke jurusan pendidikan. tidak banyak hubungan antara jurusan pendidikan dgn taraf dalan human.

Ketertarikan saya bermula ketika ekonomi menjadi tingkatan terendah dalam taraf manusia. Manusia dikatakan sebagai homo economicus. Pada tingkatan ini, manusia terlihat sebagai makhluk individu. Penekanan terhadap untung rugi dan hal-hal yang berkaitan dengan material menjadikan manusia berada dalam taraf paling bawah.
Taraf selanjutnya ialah sosial-poliitik. Setelah manusia mengejar hal-hal yang berbau materi, ia beralih untuk mengejar kekuasaan. Sudah menjadi kodrat manusia untuk berkuasa. Jelas ada keterkaitan antara zoon politicon dengan homo homini lupus. Di satu sisi manusia hidup membentuk kelompok-kelompok. Namun, di sisi lain, manusia menjadi serigala bagi sesamanya. Setiap orang mempunyai hak untuk mendapatkan  segala  sesuatu,   karenanya   yang   menentukan adalah kekuatan. Yang kuat akan mempunyai hak lebih besar daripada yang lemah. Untuk itu lah diperlukan kekuasan.
Taraf selanjutnya yaitu humanis. Pendidikan, moral, adat, kesenian, kekeluargaan, dll masuk ke dalam kategori humanis. Hal-hal yang dilakukan manusia tidak lagi mengejar materi dan kekuasaan, tetapi ia menjunjung tinggi rasa kemanusiaan terhadap sesama. Pada tingkatan ini, manusia dikatakan sebagai homo socius.
Taraf tertinggi dalam manusia adalah religius. Pada taraf ini, manusia menitikberatkan pada kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk Tuhan. Tidak sekedar mencari keuntungan dan mengumpulkan materi di taraf ekonomi, tidak menomorsatukan kekuasaan, melakukan hal-hal sosial bagi orang banyak, hingga sampai di taraf religius bagi dirinya sendiri.

Kalau saya boleh berpendapat tentang 4 Taraf dalam Human-nya Anton Bakker di atas, saya ingin menggunakan analogi.

Pada taraf terendah (ekonomi), manusia ditekankan sebagai makhluk individu. Ini diasumsikan sebagai Manusia untuk ‘satu’. Bertahan hidup untuk dirinya sendiri.

Pada taraf kedua (sosial-politik), ketika ‘satu’ sadar bahwa dalam pencapaian ekonomi pun tidak bisa berjalan sendiri, ‘satu’ memerlukan bantuan manusia lain. Namun, jangan sampai manusia lain malah merugikan si ‘satu’. Untuk itu, diperlukan kekuasaan untuk menggerakkan manusia lain, agar ‘satu’ mendapatkan segala sesuatu yang diinginkan. ‘Satu’ harus berkuasa terhadap ‘dua’, ‘tiga’, ‘empat’, dan lainnya.

Pada taraf ketiga (humanis), tingkatan dimana ‘satu’ tidak ingin berjalan sendiri. Tidak ingin sejahtera sendiri hanya sebagai ‘satu’ seorang diri. Mungkin ‘satu’ sudah memiliki materi (harta) atau bisa jadi ia tidak memikirkannya. Mungkin ‘satu’ sudah memiliki kekuasaan atau bisa jadi ia tidak ingin berkuasa. Yang jelas, ‘satu’ ingin memperjuangkan hak-hak manusia atas nama humanistik dan sosial.

Taraf tertinggi (religius), manusai memahami bahwa ‘satu’, ‘dua’, ‘tiga’, dan lainnya ialah makhluk ciptaan Tuhan. Semua yang tercipta di dunia ini ada yang menggerakkan dan itu bukan oleh tangan manusia. Sehingga, ‘satu’ hanya terfokus pada ‘Sang Pencipta’. Terlepas dari ia memiliki atau tidak mengenai materi, kekuasaan, dan sikap humanis, ‘satu’ menyadari bahwa bagaimanapun ia hidup di dunia, ia harus tetap dekat dengan ‘Sang Pencipta’.

Ironisnya, menurut pendapat pribadi saya, sebagian orang menggunakan tameng taraf tertinggi  sebagai alat untuk ‘mencari’ keuntungan ekonomi dan sebagai ‘media’ untuk memiliki kekuasaan dalam sosial-politik.

Kenyataan yang dihadapi sekarang ialah, manusia berlomba-lomba untuk mengumpulkan materi demi label sejahtera. Tidak cukup berhenti disitu, ia berlomba untuk mencuri perhatian publik agar dipilih menjadi pemimpin (red: penguasa). Namun, ada sebagian orang yang tidak memilih sebagai penguasa setelah ia mengumpulkan materi. Ia lebih cenderung untuk membantu kegiatan-kegiatan humanis.

Ada taraf tertinggi dalam manusia setelah humanis, yakni religius. Orang di sekitar lingkungan kita yang benar-benar telah mencapai titik ini tidak lagi memprioritaskan materi dan kekuasaan, melainkan menjalani kehidupan dengan penuh keyakinan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan. Berbagai macam ritual agama merupakan salah satu usaha yang dilakukan manusia untuk mendekatkan diri pada Tuhan.
Namun, sekarang ini banyak sekali perpecahan antar umat manusia yang mengatasnamakan agama. Jika agama menjadi sumber perpecahan bagi sebagian orang, apakah ia benar-benar sudah berada dalam taraf religius?

Tidak! tegas disini saya berpendapat bahwa agama apapun tidak mengajarkan manusia untuk berbuat kerusakan. Orang yang mengatasnamakan agama bahkan Tuhan, lalu memecah belah umat manusia perlu untuk ditelusuri lebih lanjut apa motivasi ia melakukan hal tersebut. Bisa jadi, ia hanya mengejar materi hingga kekuasaan, tetapi mengatasnamakan agama.

Friday, April 15, 2016

5 Kepulauan Mendunia yang Ada di Indonesia

at 4/15/2016 Links to this post

Indonesia terkenal sebagai Negara kepulauan. Terbentang dari Sabang sampai Merauke, terdiri dari 5 dan pulau besar itulah yang merupakan ciri khas Indonesia. Namun, apakah kamu sudah pernah melihat kepulauan itu secara nyata? Apakah kamu sebagai warga Negara Indonesia sudah merasakan identitas sebagai Negara kepulauan ? Mari kita simak lima kepulauan yang menakjubkan di Indonesia. *Foto-foto searching di go*gle aja yaaaa *


  • Kepulauan Anambas

Banyak orang yang bilang kalau jadi orang Indonesia itu sangat menyenangkan. Yups, sangat membanggakan jadi warga Indonesia. Mengapa tidak ? kamu ga perlu jauh-jauh ke Maldives untuk mendapatkan pemandangan yang menakjubkan dari pulau-pulau yang indah. Indonesia memiliki kepulauan yang tak kalah dengan Maldives. Kepulauan Anambas biasa dikenal dengan nama Maldives nya Indonesia .


Kepulauan Anambas termasuk dalam salah satu kabupaten di Kepulauan Riau. Dulunya, Kepulauan Anambas masih satu kabupaten dengan Kepulauan Natuna. Namun, pada tahun 2008 Kepulauan Anambas menjadi kabupaten sendiri, yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Natuna. Kabupaten Anambas memiliki ibukota bernama Tarempa. Jika ingin berkunjung ke Anambas, kamu harus menunggu jadwal kapal feri dari Tanjung Pinang menuju Tarempa yang hanya berlayar selama tiga kali seminggu. Senin, Rabu, dan Jumat adalah jadwal dari Tanjung Pinang-Tarempa. Sedangkan Selasa-Kamis Sabtu adalah jadwal dari Tarempa-Tanjung Pinang. Waktu yang dibutuhkan selama penyebrangan dari Tanjung Pinang ke Tarempa ataupun sebaliknya ialah kurang lebih sepuluh jam.
Kepulauan Anambas dalam sejarahnya bermula dinamakan Pulau Tujuh. Hal ini disebabkan Kepulauan Anambas terdiri dari tujuh pulau yang dianggap sakral oleh sebagian masyarakat kepulauan Riau. Tujuh pulau tersebut yaitu, Tarempa, Marak, Mubur, Impul, Jemaja, Raibu, dan Telaga. Jika kamu ingin mengunjungi Anambas dan merasakan Maldives nya Indonesia, perhatikan jadwal kapal ferinya ya!

Thursday, December 17, 2015

surat untuk ibu mertua

at 12/17/2015 Links to this post
teruntuk perempuan cantik yang selalu menyebut nama putranya di setiap doa

Ibu, perkenalkan aku adalah gadis lugu yang mulai beranjak dewasa. aku seorang perempuan muda yang belum banyak menyelami pahit manis kehidupan. aku seorang wanita yang dididik dan dibesarkan oleh sepasang malaikat.

Ibu, aku dibesarkan oleh perempuan hebat. Ya, sama seperti ibu membesarkan putra-putra ibu. Darinya, aku akan belajar menjadi perempuan yang lembut. Darinya, aku diajari untuk menghormati imam ku kelak. Darinya, aku diajari untuk menghormati mu, seperti aku menghormati malaikatku.

Ibu, aku diajari menjadi perempuan tangguh oleh ksatria hebat. Tak mudah mengeluh, menjadi sosok yang mandiri, dan pantang menyerah merupakan senjata terampuh untuk menjadi seseorang yang tangguh. Ksatria ku yang takkan tergantikan, ku temukan secuil sosok bijaknya dalam diri putra mu.

Ibu, aku tidak tau bagaimana kami dipertemukan. Aku tidak tau mengapa putra yg paling kau banggakan memilih ku. Aku pun tidak tau, kapan kami memutuskan untuk bersama. Yang mungkin aku tau, mereka sering menyebutnya jodoh.

 

r e g e n b o g e n Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review